Minggu, 21 Oktober 2012

BAHAYA MOBIL MURAH

Mobil murah lain yang akan bersaing di pasar adalah Esemka Rajawali. Mobil yang akan diproduksi PT Solo Manufaktur Kreasi pada Oktober mendatang ini, disebut-sebut akan dijual Rp 95 juta per unit. Mobil buatan pelajar SMK di Solo ini, bulan lalu telah lulus uji emisi yang dilalukan di Balai Thermodinamika Motor dan Propulis (BTMP) di Serpong, Tangerang.


Esemka Rajawali karya  SMK di SOLO
Pendek kata, pasar Indonesia akan dibanjiri mobil murah dengan ukuran kecil. Presiden Direktur PT Astra International Tbk, Prijono Sugiarto mengatakan, pasar otomotif Indonesia sangat potensial lantaran jumlah kelas menengah yang mencapai 40 juta orang. Bahkan, jumlah kelas menengah Indonesia diprediksi meningkat hingga 90 juta orang pada 2030 nanti. "Dengan pertumbuhan GDP rata-rata 6%, angka itu sangat fenomenal dan yang terbaik di Asean," ujarnya.

Tata Nano asal India
Tambah Macet
Yang jelas, mobil murah sebentar lagi bakal menjejali jalan-jalan di Indonesia, terutama Jakarta yang kemacetannya sudah begitu parah. Bahkan, Staf Ahli Bidang Ekonomi dan Investasi Kementerian Pekerjaan Umum Setiabudi Albamar memperkirakan, tahun 2014 Jakarta akan stuck karena jumlah kendaraan telah melebihi kapasitas jalan.
Data Direktorat Lalu Lintas (Ditlantas) Polda Metro Jaya memperlihatkan, jumlah kendaraan bermotor di Jakarta hingga 2011 sudah mencapai 13.347.802 unit. Jumlah 
tersebut terdiri dari mobil penumpang sebanyak 2,54 juta unit, mobil muatan atau truk 581 ribu unit, bus 363 ribu unit, dan sepeda motor 9.861.451 unit. Ditlantas memprediksi, pertumbuhan kendaraan pada 2012 sekitar 10%-12%.
 
Ironisnya, saat ini panjang jalan di Jakarta hanya 7.208 kilometer. Padahal kebutuhan jalan sampai tahun ini sepanjang 12.000 kilomter. "Itu berarti jalan yang tersedia saat ini baru memenuhi 60% kebutuhan masyarakat Jakarta atas jalan," kata Setiabudi. “Jika sistem transportasi tak segera dibenahi, lalu lintas di Jakarta pada 2014 akan mandek.”
BBM Terkuras
Itu baru kemacetan. Belum lagi mobil-mobil murah ini dikhawatirkan akan mengonsumsi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis premium dalam jumlah cukup besar. Asal tahu saja, realisasi konsumsi BBM bersubsidi hingga Agustus lalu sudah mencapai 29,32 juta kiloliter. Padahal, kuota BBM bersubsidi pada APBN-P 2012 dipatok sebesar 40 juta kiloliter. Artinya, jatah hanya tinggal 10 juta kiloliter.
Sisa jatah yang tinggal 10 juta kiloliter itu diperkirakan tidak cukup sampai akhir tahun ini. Karena itu, beberapa hari lalu, pemerintah telah meminta persetujuan DPR untuk menambah kuota BBM bersubsidi 4 juta kiloliter.
Tentu saja, jebolnya kuota subsidi BBM bakal menambah subsidi BBM yang semula dipatok sebesar Rp 137,4 triliun. Celakanya lagi, pemerintah tak punya peluang menaikkan harga BBM bersubsidi. Sebab, harga minyak Indonesia (ICP) saat ini berada di kisaran US$ 99 per barel, jauh di bawah ICP dalam APBN-P 2012 sebesar US$ 105 per barel.
Memang, tak semua mobil murah itu rakus minum BBM bersubsidi. Contohnya Ayla. Dengan mesin di bawah 1.300 cc, Ayla diklaim hanya mengonsumsi bahan bakar dengan rasio 1:30. Bila benar, ini tentu saja sangat irit.
Nah, untuk mobil yang irit bahan bakar, ramah lingkungan, dan banyak memakai komponen dalam negeri atau yang dikenal dengan sebutan low cost green car(LCGC), pemerintah berjanji akan memberikan insentifberupa pembebasan atau pengurangan pajak penjualan barang mewah (PPnBM). Kabarnya, beleid baru ini akan dikeluarkan bulan depan.
Yang jelas, nanti perbankan dan multifinance bakal kebanjiran kredit pembelian mobil. Maklum, hampir 75% pembelian mobil dilakukan lewat kredit. Nah, di saat itulah perbankan dan multifinace akan menghadapi ancaman kredit macet.